Rabu, 14 Mei 2014

Kirab Seni Budaya di Kawasan Masjid Besar Mataram Kotagede 2014




Saksikan Kirab Seni Budaya di Kawasan Masjid Besar Kotagede, Yogyakarta.

Kamis, 15 Mei 2014 jam 20.00-selesai
- Sholawatan di Masjid Mataram

Jumat, 16 Mei 2014 jam 14.30 - selesai
- Jathilan di Dondongan

Sabtu, 17 Mei 2014
- 16.00-17.30 : Kirab Pasrah Gunungan
- 20.00 - selesai : Campur sari "Cakra Buana"

Minggu, 18 Mei 2014 - 08.00 - 11.00 : Kirab Gunungan - Jl.Mondorakan.
- 11.00 - selesai : Nguras Sendang - Sendang Selirang
- 21.30 - selesai : Wayang Kulit Ki Seno Nugroho

Senin, 19 Mei 2014 - 20.00
- selesai : Tasyakuran - Dondongan.

Jumat, 08 Februari 2013

Cokelat Monggo Kotagede (Belgian Chocolate)

Cokelat Monggo adalah produk cokelat yang dibuat oleh industri rumahan di Kotagede. Cokelat ini memiliki citarasa yang khas dan unik sehingga menarik para wisatawan khususnya penikmat makanan cokelat untuk datang ke Kotagede dan menikmati rasa cokelat itu langsung dari rumah produksinya.

Awalnya pada tahun 2003, merk dagang Cokelat Monggo hanya mengolah sekitar 200 kg biji kakao setengah jadi per bulan untuk dijadikan cokelat khas Monggo yaitu dark chocolate. Namun, pada tahun 2011 ini, industri rumahan ini telah mengolah sekitar 5 ton kakao setengah jadi per bulan. Edward Riando Picasauw, salah seorang pendiri perusahaan cokelat Manggo ini menyatakan adanya kenaikan konsumsi cokelat merknya disebabkan adanya pergeseran selera masyarakat yang tadinya menyukai cokelat dengan campuran susu, kini mulai tertarik dengan cita rasa cokelat internasional yang merupakan pure butter cacao dengan sensasi rasa pahit.

Rumah Produksi Cokelat Monggo di Kotagede Yogyakarta
Cokelat Monggo diolah dari biji kakao pilihan dari perkebunan di Jawa, Sumatra dan Sulawesi. Setiap varian produk memiliki keunikan dari cita rasa asli bahan-bahan Indonesia yang merupakan kreasi dari ahli cokelat Belgia di rumah produksi Cokelat Monggo di Kotagede Jogjakarta.

Letak/Peta
Cokelat Monggo terletak di Kecamatan Kotagede di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat produksi Cokelat Monggo dapat ditempuh kurang lebih 20 menit (8 km) dari pusat kota Yogyakarta. Rumah produksi Cokelat Monggo bisa dibilang berada pada daerah paling pojok dari kawasan Kotagede ini, karena posisi Cokelat Monggo dapat dicapai setelah kita melewati Pasar Tradisional Kotagede, terus menuju ke selatan melewati daerah peninggalan Kerajaan Islam Mataram dan berhenti di sekitar penyimpanan "Watu Gilang" yang juga merupakan benda peninggalan Kerajaan Mataram. Jika Anda berkeinginan untuk datang ke Kotagede dengan transportasi tradisional, misal: becak atau andong, maka perjalanan dapat ditempuh kurang lebih selama 45 menit dari pusat kota di Malioboro.

Peta letak Cokelat Monggo dapat Anda lihat di bawah ini:



Produk Cokelat Monggo Kotagede

Durian
Cokelat Monggo ini adalah cokelat yang  dipadu dengan bahan dasar dari buah durian, hal ini menimbulkan rasa yang sangat khas bagi para penikmat cokelat terutama mereka yang hobby dengan buah durian. 
Bahan: cocoa mass, cocoa butter, sugar, durian fruit paste, soy lecithin, vanillin 40 grams

Milk Chocolate 
Cokelat jenis ini dibuat untuk mereka yang menyukai susu dan cokelat. Pada saat meleleh dalam mulut adalah sensasi rasa yang paling enak dalam cokelat ini
Bahan: Milk chocolate couverture (sugar, cocoa mass, cocoa butter, milk, soy lechithin, vegetable emulsifier, vanillin) 40 grams

Mango
Cokelat ini mengambil citarasa buah mangga yang memang sangat disukai oleh banyak orang. Rasanya yang manis dan sedikit kecut, juga teksturnya yang unik akan sangat terasa dilidah semua penikmatnya.
Bahan: Dark chocolate couverture 58% (cacao mass, sugar, cacao butter, emultion/ soy lechitin,Vanilin), mango paste (mango fruit, sugar) 40 grams

Beberapa produk yang sering dibeli para pelancong: http://jogjamania.com (Hunting Cokelat Monggo)







Kami bantu Anda berbelanja Cokelat Monggo lengkap disini:
JOGJAMANIA.COM - Belanja Asik Barang Jogja -
Klik  http://jogjamania.com

Toko perak HS SILVER 800-925 Kotagede Jogjakarta

HS SILVER berdiri pada tahun 1953 dengan tujuan melestarikan kebudayaan warisan nenek moyang, karena Kotagede terkenal sebagai pusat kerajinan perak Yogyakarta. HS SILVER didirikan oleh Bapak dan Ibu Harto Suhardjo, yang semula bergerak dalam bidang perhiasaan imitasi dengan nama "Terang Bulan". Kemudian pada akhir tahun 1953 Terang Bulan mengembangkan usaha ke bidang kerajinan perak. Sesuai dengan tradisi yang ada di Kotagede, untuk nama perusahaan atau toko kerajinan perak biasanya menggunakan nama pemilik sebagai nama perusahaan, oleh karena iyu nama Terang Bulan diganti dengan nama HS SILVER. HS SILVER adalah kependekan dari nama pemilik "Harto Suhardjo", dan SILVER adalah jenis usaha kerajinan yang dikerjakan dan dihasilkan. Semenjak didirikan HS Silver sudah menjadi anggota Koperasi Produksi dan Pebgusaha Perak Yogyakarta (KP3Y). Pada tahun 1965 HS SILVER membuka artshop di Jl. Mondorakan No. 1 Kotagede, Jogjakarta sampai sekarang. Untuk memperluas pemasarannya, di tahun 1975 HS Silver mendirikan cabang di Bali dengan tempat yang belum menetap. Kemudian di tahun 1980 HS Silver cabang Bali mendapat tempat usaha tetap di Jl. WR. Supratman No 42A. Tahun 1998 tempat usaha berpindah ke Jl. Batuyang No.  2 Batu Bulan Gianyar, Bali sampai sekarang. Pada tahun 1990 nama perusahaan diubah menjadi HS Silver 800-925, artinya HS Silver adalah abreviasi seperti keterangan diatas, 800-925 melambangkan kadar perak yang dapat dikerjakan. 800 adalah kadar kerajinan perak terendah dan 925 adalah kadar kerajinan perak yang dapat dibentuk dalam hitungan prosentase.

Alamat asli di Kotagede:
Jl. Mondorakan No.1 Kotagede, Yogyakarta.
Website: http://hssilver.com

Toko Perak Ansor's Silver, Kotagede, Jogja

Ansor Silver adalah produsen kerajinan perak yang berdiri sejak tahun 1956. Toko ini berpusat di Kotagede yang terkenal dengan sentra kerajinan perak. Ansor merupakan salah satu penghasil kerajinan perak terbesar di Jogja, produknya meliputi perhiasan, miniatur, aksesoris dekorasi, dan peralatan makan yang semuanya terbuat dari perak murni 800-925 karat. Produk tersebut dibuat oleh pengrajin-pengrajin yang berpengalaman dan memiliki cita rasa seni yang tinggi dalam hal kerajinan perak. 

Pengunjung yang datang ke Ansor Silver bisa langsung menyaksikan proses pembuatan kerajinan perak-perak tersebut. Mulai dari pengolahan bahan mentah sampai menjadi barang seni bernilai jual tinggi. Walaupun bengkel pembuatan perak tersebut terlihat sederhana, namun kualitas dan kemurnian peraknya tetap terjaga. Hal ini terbukti dengan kepercayaan wisatawan domestik maupun mancanegara yang membeli dari tempat ini. Ansor Silver juga menjadi rujukan para pemandu wisata dan travel agent kepada wisatawan yang menggunakan jasanya. 

Prosesnya sendiri melalui tahapan-tahapan antara lain: "perencanaan", yakni menentukan bentuk apa yang akan dibuat. Lalu "persiapan", berupa penyediaan bahan baku dan peralatan kerja. Dilanjutkan dengan "pencampuran", yaitu mencampur perak dengan logam yang lebih kuat. Logam dan perak murni dilebur ini disebut dengan proses "peleburan". Ketika perak mencair dilanjutkan dengan proses "pengecoran", yaitu memasukan cairan perak pada cetakan yang ada. Pada saat perak sudah mengeras, dilanjutkan dengan tahap pembentukan. Tahap yang paling akhir adalah proses penyelesaian atau disebut "finishing". Kualitas dari masing-masing tahapan tersebut dikontrol oleh seorang supervisor. 

Ansor Silver memiliki 28 outlet yang tersebar di Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Jakarta, Bali, dan Magelang. Adapun showroom utama adalah berada di Jogja tepatnya di Jl. Tegal Gendu, Yogyakarta. Bangunan showroom tersebut bergaya Jawa tradisional (lengkap dengan pendopo) dan didekorasi dengan barang-barang antik sehingga memberikan atmosfir yang sangat khas. Selain Ansor's Silver, di sepanjang jalan Kotagede juga banyak pengrajin-pengrajin perak, bahkan ada juga yang menawarkan paket belajar menjadi pengrajin perak seperti yang digagas oleh Studio 76. 

Sejak tahun 70-an, kerajinan perak produksi Kotagede telah diminati wisatawan mancanegara, baik yang berbentuk perhiasan, peralatan rumah tangga ataupun aksesoris penghias. Lokasi perajin perak di Kotagede tersebar merata, mulai dari Pasar Kotagede sampai Masjid Agung Mataram. Saat ini sekitar 60 toko yang menawarkan berbagai produk kerajinan perak. 

Sedikitnya ada empat jenis tipe produk yang dijual, yakni filigri (teksturnya berlubang-lubang), tatak ukir (teskturnya menonjol), casting (dibuat dari cetakan), dan jenis handmade (lebih banyak ketelitian tangan, seperti cincin dan kalung). Secara umum hasil kerajinan perak di kota ini terbagi dalam 4 jenis, yaitu aneka perhiasan (kalung, gelang, cincin, anting), miniatur seperti kapal dan candi, dekorasi atau hiasan dinding dan aneka kerajinan lainnya. 

Bahan baku kerajinan perak Kotagede ada 2 yaitu lembaran perak yang biasa disebut Gilapan dan benang-benang perak yang biasanya disebut Trap atau Filigran. Dalam setiap proses pembuatannya, ternyata tidak sepenuhnya berbahan dasar perak murni melainkan ada pencampuran dengan tembaga. Seratus persen perak dicampur dengan tembaga 7,5%. Sebab kalau perak murni terlalu lembek dan kurang kuat untuk dijadikan barang kerajinan, oleh karenanya dicampur tembaga sebagai pengerasnya. 

Dan hasil Gilapan berbentuk lembaran ataupun batangan perak itu dipukul-pukul dengan alat tertentu seperti palu yang kemudian menjadi lembaran-lembaran gepeng. Setelah itu dibentuk sesuai dengan disain yang telah dibuat seperti teko, gelas, piring, sendok dan lainnya. 

Sedangkan untuk mendapatkan bentuk benang perang atau Trap, awalnya batangan perak dipukul-pukul hingga tipis dan memanjang, kemudian diurut menggunakan urutan dan tang jumput sehingga membentuk benang-benang perak dengan menggunakan pemintal. Benang-benang perak tersebut ditempatkan di sebuah kertas menurut gambar yang sudah didisain. Supaya menempel, ditaburi bubuk patri perak yang selanjutnya dipanaskan menggunakan semprotan api, lalu direbus menggunakan air tawas supaya bekas hitam akibat semprotan api menjadi putih kembali. 

Hasilnya sungguh luar biasa, ada yang berbentuk kalung, anting, dan bros seharga mulai dari Rp 20.000 hingga miniatur kapal layar, perlengkapan makan, dan miniatur Candi Borobudur yang kesemuanya bisa mencapai harga hingga Rp 30 juta. 

Kerajinan perak Kotagede hingga kini tetap diminati oleh wisatawan lokal dan mancanegara yang datang baik secara perorangan, kelompok kecil maupun rombongan.


Alamat:
Jl. Tegal Gendu 28 Kotagede, Yogyakarta 55172 - Indonesia
Phone: +62 274 373266, +62 274 371305 
Fax: +62 274 382258 
Website: http://www.ansorsilver.com

Rabu, 10 Oktober 2012

Kotagede Menuju World Heritage City

Revitalisasi fisik dan budaya hingga saat ini terus dilakukan di Kotagede. Sebagai cikal bakal berdirinya kerajaan Mataram Islam yang pertama Kotagede dinilai mempunyai potensi menjadi World Heritage City.

Beberapa kawasan di luar Kotagede yang bangunan cagar budayanya perlu dilestarikan antara lain di : Kotabaru, Ketandan, Pandeyan, Kraton dan Pakualaman.

“Potensi bangunan cagar budaya Kotagede layak menjadi world Heritage city. Yang perlu secepatnya dibangunan adalah desain promosi dan kajian budaya secara lebih intens sehingga potret wajah Kotagede masa lalu bisa digali lebih dalam,” kata Pengamat arsitektur sekaligus pemerhati Cagar Budaya Jepang Komihik Ono. 

Menurutnya wajah Kotagede bisa lebih klasik lagi karena akultrurasi budaya dan masyarakat Kotagede juga sangat kuat. “Ini dibuktikan dengan desain rumah kuno khas Kotagede yang selalu memberi simbol simbol percampuran budaya barat, timur maupun timur tengah,” jelasnya. 

Kepala Dinas Pariwisata DIY Tazbir, SH MHum mengatakan pemerintah Provinsi DIY bekerjasama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta kini tengah mengadakan serangkaian kegiatan untuk mendorong tumbuhnya kecintaan masyarakat pada budaya adiluhung Kotagede yang sangat langka itu. 

“Tidak hanya pelestarian bangunan rumah cagar budaya namun juga budaya lokal masyarakat setempat. Hal ini bisa dilihat dari pegelaran Pekan Budaya Kotagede yang sukses digelar beberapa waktu lalu,” tutupnya. (tribunjogja.com)